Awal Mula Berdirinya Muhammadiyah di Selatpanjang



Selatpanjang berada di Pulau Tebing Tinggi, Kecamatan Tebing Tinggi. Penduduk kecamatan ini didiami oleh etnis Melayu, Jawa, Cina dan etnis lainnya. Jumlah penduduk Selat Panjang lebih kurang 40.000 jiwa, 70% pribumi keturunan Cina, selebihnya 30% adalah pribumi. Kota Selatpanjang akhir akhir ini memang telah berkembang pesat terutama dalam bidang pembangunan .


Daerah ini penghasil sagu, yang pada masa lampau merupakan komuditi ekspir, tetapi sekarang umumnya dikirim ke Jawa. Disamping sagu juga terdapat kelapa dengan aeral yang cukup luas. Sedangkan hutan penghasil kayu yang sejak dahulu dikuasai Cina, karena urat nadi perdagangan di daerah ini memang dikuasai sepenuhnya oleh Cina. Kapal-kapak fery yang hilir mudik menghubungkan Seatpanjang dengan Pekanbaru, Batam, Dumai, Tanjung Balai Karimun, Tanjung Pinang, Dabo Singkep, Bengkalis dan Singapura.


Semuanya adalah milik orang-orang Cina, sedangkan orang pribumi (melayu) pada umumnya hanyalah menjadi buruh di perusahaan Cina. Ketimpangan social tentu tak dapat dielakkan, walau ada juga orang-orang melayu yang mencoba berusaha dibidang ekspor-impor, traansportasi dan lai-lain, tidak jarang setelah berjalan beberapa bulan atau tahun,. Mereka bangkrut, karena tidak  kuat bersaing dengan orang Cina.


Mencermati keberadaan  Muhammadiyah cabang Selatpanjang, nama Haji Maulana sangat lengket dengan Organisasi ini. Sunggupun  beliau bukan pendirinya, namun keberadaannya bertahun tahun sangat menentukan perkembangan Muhammadiyah hingga kini.

 

Seorang warga Muhammadiyah Selatpanjang mengemukakan perjalannya ketika beliau membuka toko obat “Sehat Bersama”. Pedagang- pedagang Cina di Selatpanjang tidak memiliki organisasi yang jelas, tetapi memiliki ikatan emosional rasnya yang cukup tinggi.

 

Lahirnya Muhammadiyah


Muhammadiyah di Selatpanjang diperkenalkan oleh Datuk Harun Syah, ketika beliau dipindahkan dari Bagan Siapi-api untuk menjadi Wedana di Selatpanjang. Beliau mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1952. gerakan organisasi ini belum  ada yang menonjol diawal berdiriny, karena penanganannya yang terkesan belum begitu baik. Kendatipun demikianmempat tahun setelah berdirinya, gerakan Kepanduan Muhammadiyah yang bernama Hizbul Wathan berdiri pada tahun 1956. namun karena kekurangan tenaga pengelola maka kegiatan kepanduan ini tidak berjalan dengan baik.

Pada tahun 1961 adalah tahun yang patut dicatat, karena pada tahun tersebut pertumbuhan Persyarikatan Muhammadiyah di Selatpanjang mulai menggeliat kembali. Hal ini dimulai oleh seorang muballigh Muhammadiyah yang berasal dari Solo, Raharjo Periotomo.  Terasa sekali kegiatan Muhammadiyah, beliau turun langsung berdakwah ke desa-desa di Kecamatan Tebing Tinggi. Tidak sedikit rintangan yang dihadapinya dalam menumbuhkan semangat ber-Muhammadiyah. Telah diketahui bahwa orang-orang Melayu tradisional yang berfaham Syafiiyah, menganggap Muhammadiyah golongan muda yang diilhami paham Wahabiyah, yang banyak mendobrak paham keagamaan tradisional masyarakat Melayu yang telah berakar dalam hati sanubari mereka. Faham keagamaan yang berdasarkan tahyul, khurafat, dan bid’ah menjadi inti pokok kegiatan dakwah yang dilakukannya. Ia ingin meluruskan aqidah dan ibadah umat Islam agar berpedoman kepada Alquran dan Hadits Rasul. Pengalaman, pengetahuan, ketekunan dan keikhlasan bapak Raharjo Periotomo membuahkan hasil dalam mengemban misi dakwahnya. Keberhasilan ini tak lepas pula dari dukungan para pemuda yang penuh semangat seperti H.Maulana yang berasal dari Selatpanjang.


Tahun 1963 Muhammadiyah bangkit, karena ranting-ranting Muhammadiyah dan Aisyiah mulai ditata kembali.Bapak Raharjo berdakwah di Selatpanjang selama tiga tahun. Biaya hidup dan menghidupkan Muhammadiyah hanya dengan bermodal 6 ringgit emas yang dibawanya dari Solo. Kemudian beliau pindah ke Pekanbaru, dan pada tahun 1967 beliau meninggal di Medan.


Sampai tahun 1967, perjalanan pergerakan Persyarikatan Muhammadiyah sangat menyenangkan. Tetapi  dengan kehilangan tokoh seperti bapak Raharjo, ditambah lagi dengan berangkatnya H.Maulana untuk belajar, maka Muhammadiyah Selatpanjang mulai redup kembali. Beberapa ranting sudah mulai tidak aktif lagi, walaupun SMP Muhammadiyah yang didirikan oleh seorang anak didiknya, Drs. Wan Abu Bakar ( ketua pemuda Muhamadiyah Wilayah Riau, Wakil Ketua DPR Riau) tetap berjalan. Tahun 1972 H.Maulana kembali ke Selatpanjaang dengan pikiran dan semangat baru untuk membina kembali organisasi Muhammadiyah.

 

Perkembangan Setelah Kelahiran

Pada tanggal 8 Juni 1980, Muhammadiyah Selatpanjang pernah mendapat kunjungan Drs.H.Lukman Harun PP Muhammadiyah. Muhammadiyah Cabang  Selatpanjang secara organisatoris berada  dibawah Muhammadiyah Daerah Bengkalis. Menyedihkan, pengurus Muhammadiyah Daerah di ibukota kabupaten Bengkalis tidak terbentuk, sehingga cabang-cabang yang ada di kecamatan praktis tidak mendapat pembinaan oleh Muhammadiyah Daerah. Untuk mengatasi hal ini, tanggung jawab daerah dibebankan ke Muhammadiyah Dumai. Padahal Dumai adalah kotamadya administrative yang tidak membawahi kecamatan-kecamatan, dimana cabang Muhammadiyah berdiri.


Pada waktu itu Muhammadiyah cabang Selatpanjang telah membina beberapa cabang Muhammadiyah disekitarnya, sehingga gerak langkahnya lebih pesat disbanding dengan Muhammadiyah Daerah Dumai yang seharusnya menjadi pembina. Keadaan seperti ini menimbulkan berbagai pemikiran agar Muhammadiyah Daerah Bengkalis dibagi dua saja, Bengkalis Timur dan Bengkalis Barat. Cabang Muhammadiyah Selatpanjang dimasukkan menjadi Daerah Bengkalis Timur dan Muhammadiyah dumai membawahi Bengkalis Barat. Usul dan pemikiran tersebut tidak mendapat persetujuan.


Usaha membentuk Pengurus Daerah Muhammadiyah Bengkalis mulai dilakukan. Maka terbentuklah PDM Bengkalis yang dipimpin oleh Drs. H.Lumban Hutabarat, ketua Pengadilan Agama Kabupaten Bengkalis. Dengan terbentuknya Pengurus Daerah Muhammadiyah Bengkalis, pengusulan cabang Selatpanjang untuk dikembangkan ketingkat daerah terjawab sudah. Cabang Muhammadiyah Selatpanjang berada dibawah pembinaan PDM Bengkalis, sedangkan cabang Muhammadiyah Dumai dikembangkan menjadi beberapa cabang sesuai dengan status kotamadya dan membentuk PDM sendiri.


Aktivitas dakwah Islamiyah dijalankan terus menerus tiada henti, dengan munculnya para muballigh yang berdeikasi tinggi, mengingat lokasi dakwah di tempat yang sulit dan terpencil. Daerah-daerah yang sulit dijangkau tersebut, menyadarkan para muballigh untuk mempersiapkan keteguhan iman, kesabaran, ulet, semata mengharap ridha yang Maha Kuasa.


Amal Usaha yang terus berkembang hingga saat ini. Cabang Muhammadiyah Selatpanjang telah membangun TK, SD, Tsanawiyah, 4 buah Mesjid, 1 buah Mushala dengan sebelas ranting. 9 diantaranya masih aktif, sedang du ranting lain memerlukan pembinaan yang serius dengan mendidik kader Muhammadiyah.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال